10 Teori Konspirasi Para Penganut Keyakinan 'Bumi Itu Datar'
Wednesday, April 3, 2019
Anony Hack Id - Bumi ini bulat atau datar? Teknologi telah membantu kita menyaksikan sendiri Bumi yang bulat, bukan lagi sekedar kesimpulan dari deretan fenomena yang menjadi pembuktian tak langsung.
Pad 600 SM, filsuf Yunani Kuno bernama Phytagoras sudah berujar tentang bentuk Bumi yang bulat. Tentu saja pernyataan itu sangat mengejutkan pada masanya.
Kemudian di pertengahan 1800-an, Samuel Rowbotham muncul dengan pendapat lain. Ia mengumumkan bahwa Bumi berbentuk datar. Bahkan, 1,5 abad kemudian, lahirlah Masyarakat Bumi Datar (Flat Earth Society, FES) di Internet.
Di Indonesia, bahkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) baru-baru ini juga ditantang agar mengakui bahwa Bumi berbentuk datar.
Tantangan itu disertai dengan sejumlah “teori” pendukung. Dikutip dari listverse.com pada Rabu (11/1/2017) sudah cukup banyak teori dilontarkan oleh para pencinta pandangan Bumi Datar sebagai berikut:
1. Gambar-gambar Palsu
Pernyataan itu dapat dimisalkan dengan orang yang selalu berada di dalam rumah dengan jendela yang menghadap ke halaman, tapi kemudian mempertanyakan keberadaan halaman itu hanya karena tidak ada rumput di ruangan dalam rumah.
Mudah menyaksikan Bumi dari angkasa, termasuk menggunakan begitu banyaknya gambar dan video International Space Station (ISS).
Atau menyaksikan video selang-waktu (time-lapse) rekaman satelit Jepang bernama Himawari-8. Satelit itu mengambil foto Bumi setiap 10 menit dari ketinggian 35 ribu kilometer.
Nikmatilah foto ketika Bumi 'terbit' yang diambil oleh William Anders dari bulan pada 1968 atau tayangan dari wahana Cassini ketika menoleh sejenak ke Bumi saat ia melintasi Saturnus.
Tapi, bagi para penggemar Masyarakat Bumi Datar (Flat Earth Society) dan jutaan orang serupa mereka, gambar-gambar itu adalah palsu.
Bagi mereka, semua video terbitan NASA, ESA, CNSA, Roscosmos dan semua badan antariksa lainnya hanyalah skedar grafik komputer. Fotopun dianggap sekedar rekayasa Photoshop.
Dengan demikian, suatu organisasi yang selama sejak 1946 menciptakan gambar-gambar palsu, dianggap memiliki rencana jahat.
2. Video ISS Diambil dalam Pesawat Terbang
Tapi pemalsuan itu lebih niat lagi, bukan sekedar garfik komputer (CGI), video-video itu direkam dalam penerbangan dengan lintasan parabolic atau kerap dikenal dengan pesawat terband gravitasi nol (zero-G).
Tentu saja penerbangan parabolik memang ada dan kadang-kadang dipakai untuk melatih astronot untuk melakukan gerakan-gerakan dalam suasana gravitasi renik (mikro). Pada dasarnya, penerbangan demikian adalah ketika pesawat dijatuhkan secara terkendali sehingga orang-orang di dalamnya "mengambang".
Masalahnya, untuk apa NASA membuang waktu lebih dari setengah abad hanya untuk merekam video dalam penerbangan demikian. Tidak terbayangkan betapa banyaknya video yang diperlukan untuk semua itu.
Jangan khawatir, penjelasan lain oleh para pencinta FES adalah bahwa NASA merekam para astronotnya di bawah samudra atau di depan layar biru dengan para astronot yang terhubung kabel-kabel ke komputer.
3. Tembok Es Antartika
Jika dimisalkan sebuah piza, maka Antartika adalah bagian roti tebal di tepiannya. Tembok es itu dimaksudkan agar samudra-samudra Bumi tidak bocor ke sisi lain di antah berantah.
Ada banyak teori, mulai dari spekulasi ilmiah hingga fanatisme agama. Salah satunya adalah klaim bahwa tembok es Antartika dikelilingi oleh samudra lain. Di luar sana ada "benua terlarang, yaitu Antichtone".
Samuel Rowbotham menyerah melakukan tebakan dan dengan enteng mengatakan, "Pemahaman manusia terhalang oleh es abadi tak tertembus, membentang lebih jauh daripada yang dapat dilihat mata atau teleskop dan tersesat dalam bayangan atau kegelapan."
Sudah ada banyak penjelajah yang melintasi Antartika, sehingga Kutub Selatan seakan telah menjadi tujuan wisata. Sukar dibayangkan ada orang yang jatuh ke perbatasan es abadi.
4. Bumi Tak Melengkung
Inilah mungkin yang menjadi permulaan semuanya. Mari lihat alasannya. Jika orang memandang ke garis cakrawala tanpa terputus, kelihatannya seperti suatu garis datar.
Seandainya Bumi ini bulat, maka harus ada lengkungan di suatu tempat layaknya sebuah bola. Lihatlah bola ping pong dan kelihatan lengkungannya.
Ternyata, yang penting adalah skala dan posisi. Dari permukaan bulatan yang cukup besar, pemandangan 360-derajat berupa cakram karena garis pandag kita tidak menampakan apapun di belakang lengkungan di ujung cakrawala.
Orang tidak bisa melihat langsung untuk menyaksikan cakrawala menukik di sisi-sisinya karena Bumi juga bukan berbentuk tabung (silinder).
Jika orang memiliki pandangan cakrawala tak terputus di segala arah tanpa ada kerangka acuan sebelumnya, mudah beranggapan bahwa ia sedang berdiri di atas bidang datar yang melingkar.
Tapi, kita memiliki kerangka acuan. Jadi, bukan lagi suatu misteri kosmos.
5. Matahari Tidak Sejauh Jutaan Kilometer
Seperti disebut sebelumnya, model Bumi datar mengandaikan Kutub Utara sebagai pusat cakram dengan dikelilingi tembok es raksasa di tepinya.
Mirip sebuah senter bergerak pelan menurut arah jarum jam di atas lembaran kertas, maka seperti itulah matahari. Lingkaran cahaya itu tidak menyentuh seluruh lempengan itu sekaligus, sehingga itulah yang membedakan siang dan malam.
Tapi, bagaimana dengan pergantian musim dan matahari tengah malam di kutub-kutub bumi? Anggaplah matahari memang mengelilingi Bumi seperti itu, mungkin sedikit oleng sehingga terciptalah musim-musim. Mungkin bergerak mendekat ke Kutub Utara di musim panas dan menjauh di musim dingin.
Tapi bagaiman dengan muism panas di belahan selatan bumi ketika matahari bersinar 24 jam di Kutub Selatan? Seandainya Antartika memang sebuah cincin sekeliling Bumi, maka tidak mungkin ada satu segmen yang terus menerus menerima cahaya kecuali kalau seluruh Bumi itu juga terkena cahaya.
6. Roket Tak Bisa Mencapai Angkasa
Pada Januari 2016, Blue Origin mentuntaskan pendaratan ke dua dengan roket mereka sendiri, New Shephard.
Bagi para pencinta Bumi Datar, pencapaian roket-roket itu mustahil. Bagi mereka, roket subortbit seperti Falcon dan Shephard maupun roket orbit penuh seperti roket pemasok ISS, semuanya dianggap tidak meluncur secara vertikal, melainkan mengikuti lintasan yang dikenal sebagai tikungan gravitasi.
Ketika meninggalkan landasan peluncuran, roketnya bergerak lurus ke atas. Tapi, gravitasi melawan daya dorong roket itu. Sehingga, agar roket bisa naik, ia akan melenceng sedikit agar gravitasi menarik roket mendekati posisi mendatar sambil mendekati garis Karman.
Garis Karman adalah titik di mana atmosfer Bumi secara teknis berubah menjadi angkasa, sekitar 100 kilometer di atas sana. Teknik ini berguna menghemat bahan bakar, karena roket menggunakan bagian besar bahan bakarnya untuk akselerasi ke kecepatan orbit saat sebelum sampai di garis Karman.
Tapi, jika orang mengamati ini dari permukaan Bumi, roket itu seakan melintas melengkung sepanjang dasar langit-langit kaca. Menurut pencinta teori Bumi Datar, lengkungan lintasan itu merupakan bukti bahwa roket tidak dapat menembus hingga ke luar angkasa.
Jadi Bagaimana Menurut Kalian? datar Atau Bulat???